
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dunia melesat lebih dari 3%. Lonjakan ini terjadi setelah dolar AS tertekan menyusul kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) sekaligus kekalahan Partai Republik pendukung Presiden Donald Trump.
Investor juga mencermati laporan tenaga kerja AS pekan ini untuk membaca arah suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (4/11/2026) ditutup di posisi US$ 4059,74 per troy ons. Harganya melesat 3,4%.
Kenaikan tersebut membawa emas kembali menembus level psikologis US$4.000 per troy ons. Sebelumnya, harga emas sempat jatuh ke US$3.869,85 pada 30 Oktober, level terendah sejak Oktober 2025.
Pada hari ini, Kamis (5/11/2026) pukul 06.46 WIB, harga emas menguat 0,73% ke US$ 4062,69 per troy ons.
Kemenangan besar Demokrat dalam pemilu paruh waktu AS membuat dolar melemah ke level terendah dalam lebih dari sebulan ke 101,5.
Pelemahan dolar meningkatkan daya tarik emas karena membuat logam mulia yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri.
Demokrat berhasil merebut kendali Senat dan DPR AS, sekaligus mencetak kemenangan di sejumlah wilayah yang selama ini menjadi basis Partai Republik. Hasil tersebut menjadi pukulan politik bagi Presiden Donald Trump.
Analis American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan emas turut mendapat dukungan dari potensi kebuntuan politik di Kongres AS.
Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat sejumlah agenda legislasi dan menekan pertumbuhan ekonomi, sehingga membuka ruang bagi The Fed untuk mengambil kebijakan moneter yang lebih longgar.
Namun, tekanan inflasi masih membayangi pasar. Harga minyak Brent bertahan di atas US$100 per barel ketika investor menanti langkah Washington selanjutnya dalam perang AS-Israel melawan Iran.
Di sisi lain, pelaku pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai sekitar 83%, berdasarkan perangkat CME FedWatch. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Data ADP menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta AS meningkat pada Oktober. Kini, perhatian investor tertuju pada laporan tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) yang dijadwalkan rilis Jumat.
Analis Deutsche Bank, Daniel Ghali, mengatakan data tenaga kerja yang kuat dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga. Namun, laporan tersebut diperkirakan tidak banyak mengubah proyeksi puncak suku bunga The Fed karena kondisi pasar tenaga kerja saat ini bukan pendorong utama inflasi.
“Data tenaga kerja yang kuat dapat memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Namun, laporan ketenagakerjaan tersebut diperkirakan tidak akan meningkatkan proyeksi level puncak suku bunga, mengingat pasar tenaga kerja saat ini bukan faktor signifikan yang mendorong prospek inflasi,” ujar Daniel Ghali, Kepala Riset Logam Deutsche Bank, dikutip dari Refinitiv.
Analis pasar senior Capital.com, Daniela Hathorn, mengatakan pemulihan harga logam mulia masih rapuh.
“Tantangan bagi logam mulia adalah ketidakpastian geopolitik tidak serta-merta mendorong permintaan aset aman (safe haven), terutama ketika investor juga mengkhawatirkan kebijakan moneter yang ketat,” ujarnya.
Menurutnya, logam mulia juga berisiko terkena aksi jual saat pasar saham mengalami tekanan tajam. Dalam kondisi tersebut, investor cenderung melepas aset yang sudah memberikan keuntungan atau mudah dicairkan untuk memperoleh dana tunai.
Sumber: cnbcindonesia.com
