
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan nilai tukar rupiah kembali melemah dipicu kenaikan harga minyak global. Foto/Ilustrasi: Ricardo/jpnn
jpnn.com, JAKARTA – Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan nilai tukar rupiah kembali melemah dipicu kenaikan harga minyak global.
Nilai tukar rupiah pada Selasa pagi bergerak melemah 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp 18.029 per dolar AS (USD) dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.997 per USD.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah pada kisaran di Rp 17.980 per USD hingga Rp 18.140 per USD,” kata Rully.
Adapun kenaikan harga minyak dipengaruhi oleh eskalasi konflik Timur Tengah yang melebar ke sisi produksi kilang minyak.
Mengutip Kantor Berita Anadolu, dilaporkan bahwa harga minyak Brent melonjak sekitar 25 persen sepanjang bulan Juli 2026 setelah konflik terbaru antara AS dan Iran menggagalkan kesepakatan damai sementara dan memperburuk gangguan pasokan energi, mulai dari Selat Hormuz hingga Laut Merah.
Di satu sisi, konflik tersebut memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pengiriman minyak mentah dan produk turunannya, sehingga mendorong kenaikan harga minyak selama beberapa pekan terakhir.
Namun, pada Senin (3/7), harga minyak turun lebih dari 5 persen pasca Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perundingan damai dengan Iran akan dilanjutkan dan keputusannya membatalkan serangan militer yang direncanakan terhadap Iran.
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, turun menjadi sekitar 83,40 dolar AS per barel (sekitar Rp1,5 juta) pada Senin pukul 06.05 GMT (13.05 WIB).
sumber: jpnn.com
