IHSG Sedikit Pullback Setelah Naik ke Tertinggi Baru 2025, Berupaya Pertahankan 7.600

IHSG bergerak di area 7.620,23 yang 0,07% lebih tinggi dari penutupan hari kemarin, namun di bawah level pembukaan pada saat berita ini ditulis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia dibuka dengan gap atas di 7.639,06 dan merosot ke terendah harian 7.565,78 dalam satu jam pertama pembukaan. Namun demikian, indeks memangkas kemerosotan tersebut untuk kemudian menorehkan tertinggi hari 7.639,06 dan stabil di level-level saat ini menuju penutupan sesi pertama. Pergerakan indeks tampaknya ditopang oleh sisa-sisa optimisme pasca kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan mitra-mitra dagangnya selama beberapa hari terakhir.

Indeks-indeks saham Indonesia diperdagangkan beragam. Indeks-indeks ini tampaknya beristirahat sejenak setelah menunjukkan kenaikan baru-baru ini. JII70 menunjukkan kinerja terbaik di antara indeks-indeks lainnya, meskipun hanya naik 0,21%. Namun melihat emiten-emiten di dalamnya, beberapa menunjukkan kinerja yang mengesankan pada sesi pertama seperti BRMS (6,33%), RAJA (5,46%), TAPG (4,8%), dan BRPT (4,05%).

Namun demikian, penurunan IHSG tampaknya masih akan dibatasi oleh optimisme seputar tercapainya kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) akhir pekan lalu dan mitra-mitra dagang sebelumnya termasuk Indonesia karena kesepakatan ini mulai menghapus ketidakpastian yang menyelimuti pasar selama berbulan-bulan.

Meskipun demikian, pasar masih menantikan kemajuan kesepkatan perdagangan AS dan Tiongkok yang berlangsung di Stockhom, Swedia. Perundingan tersebut dilakukan oleh Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok, He Lifeng. Menurut Reuters, perundingan akan dilanjutkan Kembali pada hari Selasa.

Di dalam negeri, Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia pada Kuartal 2 2025 tetap terjaga di tengah tingginya ketidakpastian global terutama yang terkait dengan tarif resiprokal Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, seperti dilansir dari konfrensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan menyusul hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) III 2025. KSSK ini sendiri terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Dalam acara tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan, “Bank Indonesia akan terus mengarahkan kebijakan moneter untuk menjaga inflasi dalam kisaran sasaran dan nilai tukar yang sesuai fundamental, dengan tetap mencermati ruang untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai dinamika yang terjadi pada perekonomian global dan nasional.”

Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun berada di 6,537% yang masih belum bergerak sejak pembukaan. Imbal hasil ini menunjukkan kenaikan selama empat hari perdagangan berturut-turut di tengah sentimen positif di pasar yang lebih luas. Kenaikan imbal hasil mengindikasikan bahwa obligasi yang dipandang sebagai aset yang aman kurang diminati saat investor mencari aset-aset yang lebih berisiko namun berpotensi memberikan imbal hasil yang lebih tinggi seperti saham di tengah lingkungan risk-on di pasar.

Namun perlu dilihat apakah kenaikan ini merupakan pembalikan arah atau koreksi karena tren jangka panjang imbal hasil ini adalah bearish sejak mencapai tertinggi 2025 di 7,241% pada pertengahan Januari dan turun ke terendah 2024 di 6,482% pada pekan lalu.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.